Sabtu, 27 Maret 2010

Ruhhul Jadid


Sahabat,
Kita sering tertegun dalam menempuh perjalanan yang
panjang ini. Kadang-kadang kita ragu untuk meneruskan
perjalanan yang penuh dengan onak dan duri itu.
Godaan yang kuat di sana sini selalu saja merayu.
Kadang kita turut larut tanpa kita sadari. Adakalanya
kita tetap istiqomah walaupun berat ujian kita
rasakan.

Sahabat,
Adalagi yang menusuk hati, kadang-kadang kita bosan
menunggu datangnya janji Allah akan kemenangan Islam.
Lalu kitapun mencoba mencari pembenaran sendiri atas
apa yang kita lakukan.
KITA LUPAKAN SAUDARA KITA YANG JUGA BERJUANG, BAHKAN
PARAHNYA LAGI, BUKANNYA MENGGALANG PERSATUAN, TAPI
MALAH BURUK SANGKA DAN SALING MENJATUHKAN.

Sahabat,
Kita adalah rangka-rangka dalam bangunan Islam.
Saudara kita adalah saya, dia, mereka dan antum semua
yang telah rela berjanji menjual dirinya pada Ilahi
Rabbi.
Bagi kita, IDE DAN GAGASAN DAKWAH YANG BERAGAM ADALAH
KEKUATAN.
Puncaknya adalah merefleksikannya dalam sebuah gerakan
yang terorganisir, rapi, solid, dan militan, yang akan
merubah kondisi jahiliyah, sampai tidak ada lagi
fitnah dan agama ini hanya milik Allah.

Sahabat,
Syaikh Mustafa Masyhur mengatakan ada empat hal yang
harus kita persiapkan agar rangka-rangka kita kuat,
bangunan kita kokoh. Sehingga TIDAK SAJA KITA YANG
BERLINDUNG DI DALAMNYA MERASAKAN AMAN, TAPI JUGA
MEREKA YANG BERTEDUH DI HALAMAN BANGUNAN KITA
MERASAKAN KEDAMAIAN ITU. Dan kita yang berjuang tidak
akan mengalami apa yang di katakan sebagai
“orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah”
Apa sajakah itu?
1. Al-Imanul amiq, yaitu iman yang menghujam di dalam,

2. Al-ittishalul watsiq, yaitu hubungan yang erat
dengan Allah,
3. Al-amalu muthawasihil, yaitu amal yang kontinyu,
4. As-shahru daa’id, yaitu kesabaran yang ekstra.

Sahabat,
Adakah kau rasakan jantungku yang terus berdetak
kencang menyambut kemenangan yang telah dijanjikan
itu? Aku berharap, Allah senantiasa menghunuskan
kesabaran ke rongga dada kita, menancapkan keyakinan
di hati kita, menorehkan semangat jihat di qolbu kita,
menyuburkan diri kita dengan limpahan iman, menerangi
langkah kita dengan cahaya Allah yang tiada pernah
pudar.

Sahabat,
Mari kita rapatkan barisan, luruskan shaff, rajut
ukhuwah islamiyah diantara kita, apapun namanya
dirimu, aku tidak peduli, yang penting bagiku adalah
MARI KITA GALANG PERSATUAN DAN KESATUAN, DEMI TEGAKNYA
DIEN YANG LURUS INI.

Sahabat,
Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna,
"Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah".
Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang
mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang
mati itu dengan Al Qur'an.
Insya Allah kitalah ruh baru itu, sehingga setelah ini
tidak ada lagi diantara kita yang merasa jamaahnyalah
yang paling besar, paling benar, paling banyak
pengikut, paling banyak berbuat untuk Islam.

Semoga.

Pemimpin yang Saleh

Selasa, 27 Maret 2010
Pemimpin yang Saleh

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayah merupakan contoh pemimpin yang
saleh. Dikisahkan, pada hari pertama menjadi khalifah, ia berpidato, ''Saya
bukan lebih baik dari kalian, melainkan sayalah yang paling berat membawa
beban.''

Kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat berat. Tidak hanya di dunia,
tapi juga di akhirat. Fatimah, istri Umar bin Abdul Aziz, selalu melihat
suaminya menangis di masjidnya. Padahal, negara yang dipimpinnya telah
benar-benar makmur. Semua rakyat merasa dipenuhi hak-haknya.

Ketika Fatimah menanyakan soal tangis suaminya itu, Khalifah Umar pun
mengatakan, ''Saya lagi merenungi nasib rakyat, takut masih ada di antara
mereka yang lapar, yang sakit tanpa pengobatan, yang tidak mempunyai pakaian,
yang didzalimi, yang terasing, yang tua bangka tanpa ada bantuan, yang miskin
dan mempunyai banyak keluarga, dan lain sebagainya di belahan negeri ini. Saya
tahu di hari kiamat nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.

Saya takut kalau saya tidak mempunyai alasan yang benar. Karenanya saya
menangis.'' Umar bin Dur meriwayatkan, suatu hari ia melihat Khalifah Umar bin
Abdul Aziz sedang bersedih dan ia pun bertanya penyebabnya. Khalifah Umar
menjawab, ''Siapa saja yang berada pada posisi seperti saya pasti akan
bersedih. Bayangkan, saya selalu memikirkan bagaimana menyampaikan setiap hak
kepada masing-masing rakyat, baik ia minta ataupun tidak.''

Setiap malam, seperti diriwayatkan Atha', Khalifah Umar mengumpulkan para
ulama, duduk bersama-sama, merenung tentang kematian dan hari kiamat. Lalu
mereka sama-sama menangis seakan menangisi seseorang yang baru saja meninggal
dunia.

Rasa takut akan siksaan Allah di hari kiamat benar-benar terhunjam dalam diri
Umar. Dari sinilah kemudian terpancar perilaku kepemimpinannya yang sungguh
menyebarkan kesejahteraan bagi semua rakyatnya. Bila Umar berkhutbah di hari
Jumat, ia pun selalu mengingatkan kepada jamaah, ''Wahai manusia, perbaikilah
apa yang tidak tampak dari perilakumu niscaya yang tampak akan baik dan
berbuatlah untuk akhiratmu niscaya duniamu akan cukup.''

Wahib bin Al-Ward menceritakan, ketika sekelompok kerabat Umar datang dan minta
tambahan harta, sang khalifah hanya menjawab, ''Saya takut akan siksaan Allah
yang pedih bila saya berbuat maksiat.'' Dalam riwayat As-Suythi disebutkan,
hanya dua tahun lima bulan Umar memimpin, tapi rakyat di seluruh negeri
benar-benar menikmati buah keadilan yang ditegakkannya.

Juga disebutkan, sebelum menjabat Umar mempunyai empat puluh ribu dinar. Ketika
wafat, ia hanya mempunyai empat ratus dinar. Amru bin Muhajir bercerita, Umar
tidak pernah memakai hak milik negara untuk kepentingan pribadi. Hasan
Al-Qashab menyebutkan, kesalehan Umar sebagai pemimpin ternyata telah
memancarkan rahmat tidak hanya kepada rakyat melainkan juga kepada binatang.

Diriwayatkan, selama kemimpinan Umar, serigala dan kambing hidup berdampingan
dalam satu padang gembala. Ketika ditanya bagaimana mungkin serigala itu tidak
menyerang kambing, sang pengembala menjawab, ''Bila kepala baik, maka seluruh
badan akan baik.'' 

semoga bermanfaat..