
Merajut Cinta
Marwih
Entahlah...
Entah dimana cinta itu bersembunyi
Bagai sebuah keluarga, namun sapaan tak pernah
menyentuh hati
Lalu egois, tinggi hati, merambat perlahan meracuni
Menyatu dalam perbedaan memang tak mudah, merajut
cinta dalam sebuah jama'ah kadang melelahkan jiwa.
Letih, dan putus asa kadang menerpa, membuyarkan semua
impian-impian indah. Padahal sungguh dahsyat, bahkan
teramat dahsyat potensi yang dimiliki setiap jiwa,
namun pupus saat disatukan. Orang-orang hebat, sholeh
dan pintar yang mestinya menyatu dalam rajutan cinta,
hanyalah seperti benang-benang kusut saat dirajut, tak
ada keindahan saat mata menatap.
Berbeda...
Bukankah itu hal yang biasa? Keragaman dalam sebuah
jama'ah semestinya menjadi sumber kreativitas,
dengannya kita bangun samudera kebaikan. Layaknya pun
sebuah bangunan, pastilah tersusun dari bahan olahan
yang berbeda-beda, dan itu adalah kekuatan. Puncaknya
adalah sebuah gerakan yang rapi, solid dan militan
dalam sebuah jama'ah hingga mampu merubah kondisi
jahiliyah menjadi penuh dengan rahmatnya Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Kunci dari semua itu adalah rajutan cinta pada setiap
hati kita, dengannya jiwa-jiwa akan selalu bersama
mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Karena rajutan cinta
pulalah, akan lahir manusia-manusia yang siap
mengusung panji-panji dakwah dari berbagai latar
belakang yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat
rabbaniyah, penuh dengan curahan ridho Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Rabbani yang bukan saja sebagai ghoyah
(tujuan), namun juga meliputi wijhah (arah), masdar
(sumber) serta manhaj (sistem).
Memang, merajut cinta dari setiap jiwa sungguh tak
mudah. Namun, selama helaan nafas masih
diamanahkan-Nya, bisakah seseorang mengingkari hati
akan sebuah fitrah manusia?
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu pernah mengatakan
bahwa, kekeruhan jama'ah jauh lebih baik daripada
kejernihan individu. Kecerdasan individual pun tak
akan pernah dapat mengalahkan kecerdasan sebuah
jama'ah. Memang benar, perbedaan bukan sesuatu yang
mustahil, namun yang diharapkan walaupun mempunyai
kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi
kepentingan bersama untuk menegakkan qalam Ilahi di
muka bumi.
Ikhwah fillah rahimakumullah,
Semua potensi yang ada pada setiap jiwa hendaknya
ditata dengan baik dalam sebuah gerakan berjama'ah.
Dari seuntai benang rajutan, akan tercipta i'tishom
bihabliLlah, menyatunya hati dalam ikatan aqidah serta
semangat ukhuwah sebagai landasan terbentuknya ruhul
jama'ah. Rajut, dan rajutlah selalu al-imanul amiq
(iman yang menghujam ke dalam), al-ittishalul watsiq
(hubungan yang erat dengan Allah), al-amalu
muthawasihil (amal yang kontinyu) serta as-sharu
daa'id (kesabaran yang ekstra) hingga tercipta rajutan
cinta.
Mari rapatkan barisan dan luruskan shaf, rajut kembali
cinta-cinta, karena kita semua adalah jiwa baru yang
mengalir di tubuh umat, yang menghidupkan tubuh yang
mati itu dengan Al Qur'an (antum ruhun jadidah tarsi
fii jaasadil ummah, Hasan Al-Banna).
Rasakan detak jantung mu ikhwah, siapkan diri
menyambut kemenangan yang telah dijanjikan, hunus
kesabaran serta kelapangan pada setiap rongga dada,
torehkan semangat jihad dengan limpahan iman,
bergelombang dan bergerak senada menuju cinta Allah
Subhanahu wa Ta'ala, ALLAHU AKBAR!!!
*Siapapun takkan pernah bisa bertahan / Melalui jalan
dakwah ini
Mengarungi jalan perjuangan / Kecuali dengan kesabaran
Wahai ummat Islam bersatulah / Rapatkan barisan jalin
ukhuwah
Luruskan niat satukan tekad / Kita sambut kemenangan
Dengan bekal iman maju kehadapan / Al Qur'an dan
Sunnah jadi panduan
Sucikan diri ikhlaskan diri / Menggapai ridho Ilahi
Dengan persatuan galang kekuatan / Panji Islam kan
menjulang
Tegak kebenaran hancur kebathilan / Gemakan takbir
ALLAHU AKBAR!
(Notes: Dikutip dari lirik nasyid Senandung
Persatuan-Izzatul Islam)
Wallahua'lam bi showab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Marwih
(Inniy uhibbuka fillahi ta'ala, ikhwah fillah)